Ana P. Dewiyana

Mimpi

In Cerita Pendek on August 31, 2009 at 12:08 pm

“Aneh,” pikirnya.

Perempuan itu mengerjapkan mata.

Tak hanya sekali ….

Seakan-akan, dia baru bangun dari mimpi yang sangat panjang. Bola matanya tak bergerak, menerawang bayangan yang selalu mengurungnya dengan kata-kata tak nyata.

Perempuan itu mengerjapkan mata.

Berulang kali ….

Seakan-akan, dia belum bisa terjaga dari sesuatu yang selalu menjadi tanya seluruh jiwa raganya.

Perempuan itu mengerjapkan mata.

Sekali lagi ….

Seluruh sel-sel di kepalanya membujuk akal sehat untuk mulai mengumpulkan nyawa yang beterbangan, mencari-cari jalan pulang.

“Aneh,” ucapnya lirih.

Perempuan itu menutup wajahnya. Kepalanya memutar ke kanan dan ke kiri, kira-kira 180 derajat. Seperti layar kapal yang dimainkan angin kencang dari buritan. Sulit mencari arah tujuan.

Perempuan itu memejamkan mata. Mencoba menelan semua rasa yang selalu membuat detak jantungnya bertalu-talu atau mendadak berhenti.

Perempuan itu masih memejamkan mata. Kesadarannya dihanyutkan sang waktu. Perlahan-lahan, hadir jawaban-jawaban seperti potongan puzzle yang hampir tersusun utuh.

Perempuan itu membuka matanya. Gambar-gambar yang muncul dari alam bawah sadar memutar ulang dengan sendirinya. Memberikan efek rasa tawar bagi seluruh ingatan yang ada. Sedikit demi sedikit, pesan-pesan ghaib itu pun memulihkan keberadaan diri

sejatinya.

Nun dari kejauhan, sayup-sayup terdengar senandung mendayu-dayu (alias lagu dangdut) ….

Mengapa kau datang, lalu pergi lagi

Mengapa kau datang, hanya dalam mimpi

Tiba-tiba, perempuan itu menghembuskan napasnya dengan sekali sentakan.

“PUIH! DASAR MIMPI …!!!” teriak perempuan itu sambil mengantungi tawa di mulutnya yang hampir-hampir menguap.

***

CINDERELA

In Cerita Pendek on August 31, 2009 at 12:04 pm

lewat

gema

denting malam

dua belas kali,

menukar

jiwa

pada

ruang

dan

waktuku

kembali

Dara itu menoleh lagi ke belakang. Tersangkut di tenggorokkannya ucapan selamat tinggal. Berat rasanya meninggalkan semua kegembiraan di sebuah ruang yang menawarkan keabadian dan keindahan. Terbayang-bayang selalu di dirinya, gambaran-gambaran rasa bak lukisan cerita khayangan.

”Aduh!” terantuk kaki di salah satu anak tangga. Sebelah sepatunya seolah terlepas dalam ketidaksadaran. Matanya melirik sekilas pada benda cantik itu. Dia terus melangkah turun, seolah ada yang memburunya. Sekejap tersadar. Kepalanya (sekali lagi) menengok ke belakang. Tentu saja tidak ada yang mengejar. Hanya halusinasi atau pengharapan yang tak berujung.

Ditariknya napas dalam untuk memanggil suatu keputusan dari palung jiwanya yang terdalam. Ditatapnya rembulan. Dipejamkan matanya. Sekelebat … sebuah cahaya bintang menusuk pikiran. Suatu keputusan …

Dibalikkan tubuhnya. Kembali, dia menaiki anak tangga. Dipungutnya lagi sepatu yang (sengaja) dilepaskannya tadi. Dibawanya bersama. Yaa … sepatu kaca itu tidak boleh ditinggalkannya seperti cerita-cerita lama.

Forest Solitude

In Puisi on August 31, 2009 at 11:59 am

Disambut nyanyian burung-burung memadu rindu

Yang dititipkannya pada pucuk-pucuk dedaunan

Iramanya mengalir dalam sukma-sukma penghuni rimba

Di kedalaman rasa, sebutir embun mengintip matahari

Seperti mata kanak-kanak yang merindukan ibunda

Pada saat bersamaan, riak-riak air menari-nari di permukaan

Sesekali memantulkan kilauan sebagai keramahtamahan

pada batu-batu di pinggir kali yang lama tak bersua

Desau angin pun menggoda keakraban mereka

seiring tawa riang bunga-bunga liar yang ingin bermain bersama


–Bandung, April, 1 2009–