PESONA PRIANGAN

JEJAK SANGKURIANG

menyibak kabut
di antara
pinus-pinus
dan
jalan beraspal

***

LANGIT PRIANGAN

pagi ini,
awan putih melukis langit.
Goresannya
tunjuk
impian baru
serupa bentangan

***

BUNGA PRIANGAN

Sepagian ini,
kembang kertas ungu
dan
pikiran
bermekaran
di sepanjang
tepi jalan setapak

***

TANAH PRIANGAN

cahaya matahari
menelusuri
hamparan
bukit-bukit teh
dan
palung jiwa
yang
memandang

***

MALAM DI PRIANGAN

kunang-kunang
menari
di antara
lembutnya
garis-garis
air hujan,
cahaya lampu jalan
memantulkan
ceritanya
ke angkasa

***

TARIAN PRIANGAN

Bunga-bunga liar
dan
ilalang
menari-nari
di bawah
sinar mentari

***

PERHIASAN PRIANGAN

Merangkai
bunga-bunga liar
tuk dijadikan
mahkota
bagi
pegunungan
dan
gadis kecil ilalang

***

CERITA RAKYAT PRIANGAN

Elang
berputar-putar
di angkasa,
mencari
jiwa cerita-cerita lama

***

Priangan, 31 Desember 2009-2 Januari 2010

e-book Mantra Tiga Kota-PUISI RUPA-RUPA WARNA edisi revisi

Free E-Book free ebook

Mantra Tiga Kota-Puisi Rupa Rupa Warna (Revisi)

Lelaki Pantai

 

Lelaki pantai 

Legam terbakar matahari

Ada aroma laut dari jiwanya yang tersenyum biru

Pantulkan selarik warna cerita langit

Legenda yang terpikat angin Timur Tidore 

 

– Oktober 2011–Tidore

I La Galigo dan Tuan si Hujan Bulan Juni, Sapardi Joko Darmono

Bulan Juni, bulan keramat dan teramat istimewa

Berjumpa Tuan Si Hujan Bulan Juni dalam suasana yang tak biasa

Ada canda dan rupa manusia biasa, rasa luar biasa karya mempesona

Lewat Ila Galigo … penggalan rasa budaya membahana

Riuh gemuruh menyesak di pikiran dan asa

Sejuta makna dalam larik-larik kata

Melukisi malam jiwa fiesta, tak terlupa dalam bait-bait sastra

–Malam Pembukaan Makasar International Writer Festival, 14 Juni 2011–

Fiesta Ribuan Makna di Desa Nelayan Galesong

Terik cahaya keemasan matahari menyelimuti jiwa-jiwa kata

Nyanyian kanak-kanak berselimutkan pasir pantai 

Merdu menyambut ribuan harapan

Sejenak, tersihir nikmatnya sajian ikan merah dan sambal mangga 

Berebut rasa di antara warna-warni cerita dari aneka budaya

Tabur suka cita hiasi rumah-rumah panggung dan riak laut biru

Di desa Nelayan Galesong dalam fiesta ribuan makna

Ada senyuman dan keramahan sejati manusia dari berbagai belahan dunia

–Makasar International Writer Festival, 14 Juni 2011–

Perempuan yang Tersesat Rindu di antara Benteng Rotterdam dan Losari

Ada selarik rindu yang mengetuk-ngetuk jiwa perempuan itu

Antara langkah kaki di benteng Rotterdam hingga rasa desir angin di Losari

Oooh, kamana jua perahunya dilayarkan?

Saat tanjung mulai riuh …

Juga tatkala riak air menjingga

Dan senja pun ikut menyapu langit dengan lukisan keemasan

Ah, harinya pun tiba-tiba terapun pada satu cerita

Yang terdampar dalam secawan teh, penawar rasa tak berkesudahan

Makasar, 12 Juni 2011

Menapaki Jejak Langkah Pada 4 Bastion Benteng Rotterdam

Di sudut-sudut benteng Rotterdam

Pusaran waktu lindungi seluruh pusaka jiwa

Dari rasa dan warna usia matahari

Tak risaukan detak yang berlalu

Para pujangga menjaganya 

Pada 4 Bastion agar kilau tak kian memudar

Juga ribuan  mata mimpi generasi muda

Awasi gelagat pengintai yang hendak renggut Ila Galigo

Sedari jutaan senja silam …

Makasar, 12 Juni 2011

Sekeping Senja di Losari

Matahari merah menyala pulang ke pulau terapung

Meninggalkan rindu pada ribuan pasang mata yang mengantarnya pergi

Warna jingga pun menoreh jejak pada riak air laut

Menjadi permadani laju perahu-perahu pinisi masa silam

Menuju tanjung harapan, L O S A R I …

Makasar, 12 Juni 2011

Sakura

Dongeng yang sama. Dia berkisah lagi tentang sakura yang tumbuh di halaman belakang rumah kami (dulu) di Osaka. Diulang-ulangnya terus hingga hari ini tak sadar sudah genap menjadi tujuh ratus tujuh puluh tujuh polesan cerita tentang sakura(nya).

Aku menelungkupkan wajah ke meja makan. Menyesali terjebak lagi di antara khayalan-khayalan dan kenangannya tentang sakura itu yang tak jua lekang oleh waktu ataupun olehku.

Aku mengangkat kepalaku, sialnya mataku bertemu dengan tatapan lembutnya yang separuh memabukan. “Sayangku, kau ingat sakura kita … Mereka berebut nyanyian dengan angin … “

Oh tidak!!! Kali ini, aku sudah tidak tahan. Kusodorkan tiket dan surat-surat perjalanan lainnya.

“Pulanglah … kembalikan dongeng-dongeng itu kepada pemiliknya, sakura(mu)!!” kataku sambil menghapus lukisan-lukisan sakura yang bertebaran di seluruh ruang dan waktuku.***

Cinderela: Audio Book Rupa-Rupa Warna hlm. 14

Cinderela: Audio Book Rupa-Rupa Warna hlm. 14, posted with vodpod

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.