cene 1
[versi CERPEN]

Tik tak, tik tak, tik tak, tik tak, tik tak …
Berkejaran waktu memburu sekelumit jarak. Irama itu membuatnya tidak bisa memejamkan mata dan pikiran. Tentu saja tidak akan bisa. Bukankah beberapa jam lagi seseorang akan meninggalkan dirinya lengkap dengan cerita-cerita yang berjuntaian tak terjalin. Baru kali ini, hatinya terasa sangaaaat berat untuk mengakhiri suatu perjumpaan.

Pikiran-pikiran mengurungnya dalam diam hingga tubuhnya terduduk di lantai. Sambil menopang dagu di lutut, dipikirkannya cara untuk mengucapkan selamat jalan. Buntu! Dia berdiri dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dipandanginya langit-langit, mencari-cari jawaban.

Sekelebat ada kalimat yang datang!!! “Apakah ada perjumpaan lagi setelah sosok itu beranjak melewati gapura?” Aaaaah! Satu pertanyaan belum juga terjawab, mengapa ada satu lagi yang menerobos pikiran. Digelengkannya kepala untuk menghapus segala kekhawatiran.

Tik tak, tik tak, tik tak, tik tak, tik tak …
Ditolehnya ke arah asal bunyi-bunyian. Matanya nanar saat bertubrukan dengan jarum jam yang tak pernah diam. Satu tarikan napas lagi dihirup untuk mengikat keberanian. Bangkit! Ditegakkannya rasa. Tangannya mengalungkan syal di leher sebagai pengikat raga yang tak berdaya.

Sesaat kemudian, dia membuka jendela. Di luar kamar, gelap dan hening masih meraja. Ragu! Dia bertanya pada dinginnya udara, “Oh, pantaskah dirinya berbuat sedemikian? Menunggu di pagi gelap buta?!” Ah, logika pun tak cukup untuk mencegah keinginannya. Yang dia tahu, hal ini dilakukannya: demi satu rasa yang tak tentu arah tujuan. ***


–mengenang suatu pagi buta dalam jarak ribuan jam matahari–

Scene 2
[versi PUISI]

Menunggumu di beranda
Pagi buta
Dalam doa-doa dan setangkup bunga
Berteman secangkir teh panas penawar rasa
Sekelebat
Menyelubungi jiwa
Tak berjejak
Kukalungkan selendang berwarna
Pada udara yang mengambang
Di sudut-sudut mata
Yang enggan bertatapan
Melepas satu nama yang terbalut kenangan
***