Mata bulat itu menyapu sepintas pada lukisan senja yang turun lewat pematang. Ada garis sekelebatan cahaya matahari keemasan menyentuh ujung bulir padi. Ditelusurinya, garis-garis lembut itu. Hatinya berdetak …
Tidak banyak yang berubah dengan goresannya pun warna-warna yang tertuang di atas kanvas itu. Benar-benar khas dia, detail dan hidup. Dan tentu saja selalu mempesona dirinya. Setelah cukup waktu menikmati lukisan yang pertama, kakinya melangkah pelan, berpindah melihat-lihat lukisan-lukisan lain yang di pajang di galeri itu … semakin banyak yang dilihat, detak itu semakin bertalu-talu.
“Ing, Inggrid?!” sapa sebuah suara yang membuat napasnya sejenak terhenti.
Dia memejamkan matanya sekerlipan waktu. Mencuri ketenangan yang sejak tadi menghilang. Dia menoleh ke arah suara tadi setelah sebelumnya menarik garis bibir. Mencoba tersenyum.
“Hi, Roo!!! Apa kabar?! Gila, lukisan-lukisan lo itu!! Gw selalu suka!”
“Heh ….” jawab laki-laki yang disapa Roo sambil memeluk Inggrid sebagai salam pertemuan.
Inggrid hanya bisa membiarkannya sambil tersenyum getir.
“Angin apa yang bisa bawa lo sampai ke sini?” tanya Roo sambil melepaskan pelukannya dan menatap Inggrid dalam.
“Angin rindu hahaha …”
Tatapan Roo menghujam tak percaya.
“Ok … ok … Kebetulan, gw singgah di kota ini. Tak sengaja ketemu si Johan di tempatnya Mirch. Dia yang ngasih tahu kalo lo pameran di sini.”
“Oh…”
“Oh?!”
“Ing!”
“Hmmm …?”
“Kabarnya, elo ‘dah gak ngelukis lagi sejak kejadian itu?”
Inggrid terhenyak. Dia tak menyangka akan ditanya tentang itu lagi. Seputaran jam pasir, mereka terbungkus keheningan. Inggrid menatap mata Roo nanar. Dia tersenyum getir. Hatinya berebut kata, sejak Roo … sejak 10 tahun silam …. sejak …. Ah, sejak semua itu, jiwanya tak sanggup lagi menggoreskan kehidupan di atas kanvas. Kosong.
–Bandung, Cinambo 17 Agustus 2o1O–