Dia menatap langit. Matahari masih menggantung 155 derajat. Belum pada posisi yang disukai. Sekelebat, dirinya teringat akan senja. Sering (rasa-rasanya) akhir-akhir ini, senja terlewat. Mungkin, malam terlalu cepat menelannya ataukah mata tak lagi berpaling menerobos jendela. Tiba-tiba, menyeruak satu rasa rindu! Kian lama, rasa itu membuncah dan berputar-putar di dalam rongga dadanya. Ditariknya napas dalam ….
Ujung Berung, Suka Miskin, …: 16:50-17:10 WIB: di dalam angkot Dipati Ukur-Panghegar
Di antara kantuk serta kelebatan rumah-rumah dan pepohonan, semburat merah membias di kaca-kaca jendela yang dilintasi. Pertanda, sosok yang dirindu sudah datang. Dia tersenyum senang. Diputarkannya pandangan. Dicarinya di setiap sudut. Namun, sosok tersebut tetap tak tertangkap mata.
Sementara itu, mobil terus melaju dan berhenti silih berganti. Orang-orang yang ada di sekitarnya pun sudah beberapa kali datang dan pergi. Tanpa jeda, dia terus mencari, mencari yang dirinduinya teramat sangat.
Cicaheum-Cicadas, 17:11-17:25 WIB: masih di dalam angkot Dipati Ukur-Panghegar
Hingga hari merangkaki waktu. Tetap, si Bulatan Merah tak ditemukannya. Dia hanya bisa melihat kelebatan cahaya di kaca-kaca gedung-gedung kota. Warnanya memoles dinding-dinding hingga merona. Rasa rindunya semakin menjadi. Dicarinya pada garis-garis langit. Namun, yang tampak hanya awan-awan yang berarak pulang. Dadanya bergemuruh. Ingin rasanya berada dalam dekapan cahaya itu. Tubuhnya menggigil. Rasa sakit dilututnya karena cidera akibat kecelakan tahun lalu hadir kembali. Tubuhnya jadi lemah tak berdaya. Air mata sudah mengikat dalam kelopak, menunggu dialirkan sekadar ingin melepas gundah. Rasa biru pun tercekat di tenggorokan. Penghujung usia menghantui pikirannya. Pilu! Tiba-tiba tak ada lagi yang ingin dilakukan. Dipejamkan matanya sejenak. Sekelebat, kecelakaan mobil melintas dalam pikirannya. Dia terkejut. Dienyahkannya pikiran itu dari ingatan. Dikatupkannya bibir untuk mengunci agar segala keburukan tidak keluar. Ada apa ini? Beberapa detik kemudian …
Jalan Jakarta-Jalan Sukabumi, 17:26-17:32 WIB: masih di dalam angkot Dipati Ukur-Panghegar
Matanya membuka perlahan. Sedetik terpaku pada langit yang memerah. Sontak! Tubuhnya duduk tegak saat sosok itu hadir dalam pandangan. Dia tersenyum bahagia walaupun sempat melihatnya hanya dalam sekejap. Sepuluh detik kemudian, saat mobil berkelok, kembali wujud tadi terhalangi tembok-tembok yang menjulang dan akhirnya terperangkap di balik awan. Hujan pun sekejap menyapa. Titik-titiknya melukisi tanah hingga terurai aroma yang akan selalu diingatnya dalam kenangan.
RE Martadinata-Jalan Dipenogoro-Dago, 17:37-17:44 WIB: masih di dalam angkot Dipati Ukur-Panghegar
Entah mengapa, kebahagiaan seketika terasa dicerabut dari dirinya. Tubuhnya melemah. Rasanya ingin menopang pada satu kekuatan. Dadanya terus bergejolak. Di perempatan Dago (Dipenogoro-Sulanjana), dirasakan, mobil bergerak perlahan. Terlihat beberapa polisi di tengah-tengah jalan. Mereka sedang mengatur arus lalu lalang kendaraan. Terasa ganjil! Tubuhnya berputar ke arah kiri. Matanya tertumbuk pada mobil bak terbuka yang berhenti di tengah jalan. Pecahan kaca berserakan di sekitarnya. Beberapa orang tampak berkerumun dan menyelamatkan yang masih tersisa. Dia mematung kaku! Semenit kemudian, dihelanya napas perlahan, mencoba mengirim udara–yang sejak tadi menggelantung dalam tubuhnya–kepada alam.
Sulanjana: turun dari angkot, berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan berikutnya
Dengan diam, di tatapnya langit, seakan hendak mencari jawaban atas segala kemungkinan …
09 September 2009
–meminjam sekelumit cerita dari senja yang menghilang–