“Aku ke atas dulu, ya. Bentar, kok hanya 10 menit,” katanya. Setengah berlari, dia melompati anak-anak tangga toko buku itu dengan cepat. Matanya melirik ke sebelah kanan, terpotret oleh lensa matanya sesosok bayangan. “Hmmm, kok sering ngeliat bule, sih di jalan-jalan di Bandung sekarang. Dan gaya bule-bule itu gak kayak turis, lebih mirip penduduk di sini,” pikirnya. Perhatiannya terpecahkan saat melihat eskalator. Dia langsung naik eskalator itu sambil menaiki anak tangganya dengan cepat, ingin tepat 10 menit tiba di bawah lagi. Di belakangnya, si Bule tadi menaiki eskalator yang sama dengan santai.

Setelah sampai di lantai atas, matanya langsung bergerak seperti kamera pengintai. “Nah, itu dia!” katanya sambil menuju rak berisi kertas-kertas. Hanya dalam hitungan 2 menit, dia sudah memasukan 5 pak kertas origami ke dalam keranjang belanjaan. Kemudian, dia berjalan menuju kasir dengan terburu-buru. Di tikungan, tiba-tiba tubuhnya bersenggolan dengan tas jinjing yang dipegang si bule tadi. Refleks, keduanya saling melihat, meminta maaf. Refleks juga dia berkata, “sorry” dan si Bule mengucapkan kata “punten“. Dalam beberapa puluh detik, dia terbengong-bengong dengan persilangan kata barusan dan teringat pikirannya beberapa menit lalu.***

Cikutra, Bandung, 06 September 2009
Penggalan cerita dua hari yang lalu di Gramedia Merdeka Bandung