Setelah sampai di lantai atas, matanya langsung bergerak seperti kamera pengintai. “Nah, itu dia!” katanya sambil menuju rak berisi kertas-kertas. Hanya dalam hitungan 2 menit, dia sudah memasukan 5 pak kertas origami ke dalam keranjang belanjaan. Kemudian, dia berjalan menuju kasir dengan terburu-buru. Di tikungan, tiba-tiba tubuhnya bersenggolan dengan tas jinjing yang dipegang si bule tadi. Refleks, keduanya saling melihat, meminta maaf. Refleks juga dia berkata, “sorry” dan si Bule mengucapkan kata “punten“. Dalam beberapa puluh detik, dia terbengong-bengong dengan persilangan kata barusan dan teringat pikirannya beberapa menit lalu.***
Cikutra, Bandung, 06 September 2009
—Penggalan cerita dua hari yang lalu di Gramedia Merdeka Bandung—