lewat
gema
denting malam
dua belas kali,
menukar
jiwa
pada
ruang
dan
waktuku
kembali
Dara itu menoleh lagi ke belakang. Tersangkut di tenggorokkannya ucapan selamat tinggal. Berat rasanya meninggalkan semua kegembiraan di sebuah ruang yang menawarkan keabadian dan keindahan. Terbayang-bayang selalu di dirinya, gambaran-gambaran rasa bak lukisan cerita khayangan.
”Aduh!” terantuk kaki di salah satu anak tangga. Sebelah sepatunya seolah terlepas dalam ketidaksadaran. Matanya melirik sekilas pada benda cantik itu. Dia terus melangkah turun, seolah ada yang memburunya. Sekejap tersadar. Kepalanya (sekali lagi) menengok ke belakang. Tentu saja tidak ada yang mengejar. Hanya halusinasi atau pengharapan yang tak berujung.
Ditariknya napas dalam untuk memanggil suatu keputusan dari palung jiwanya yang terdalam. Ditatapnya rembulan. Dipejamkan matanya. Sekelebat … sebuah cahaya bintang menusuk pikiran. Suatu keputusan …
Dibalikkan tubuhnya. Kembali, dia menaiki anak tangga. Dipungutnya lagi sepatu yang (sengaja) dilepaskannya tadi. Dibawanya bersama. Yaa … sepatu kaca itu tidak boleh ditinggalkannya seperti cerita-cerita lama.