
Kubuka pintu. GELAP! Ada beberapa garis cahaya melintang sebesaran benang layangan. Berkas cahaya itu datang dari celah-celah jendela yang tertutup. Kuulurkan tanganku mencoba menggenggamnya, ada rasa hangat menjalar di sela-sela jemari. Kuhirup aroma yang sangat akrab, aroma yang melekat kuat dalam ingatan. Berkas cahaya dan aroma ini hmmm … perpaduan yang selalu mendesak ruang-ruang rinduku.
Beberapa menit kemudian, kutarik tanganku dan kucoba mencari-cari saklar di tembok. Aku hapal betul, saklar berada dua jengkal dari kusen pintu sebelah kiriku. Klik! Cahaya jingga temaram menyebar di seluruh ruangan yang berukuran sekitar 8 x 8 Meter persegi itu.
Mataku menyapu tiap sudut dan berhenti pada satu furniture yang terbuat dari rotan. Kursi goyang itu … Aku menghampirinya. Letaknya masih sama dekat jendela. Aku tak berniat membuka jendela itu. Kubiarkan hanya cahaya jingga dari lampu bohlam saja yang menemaniku, seperti yang biasa kulakukan, dulu …. Kuelus bagian sandaran kursi goyang itu. Lebih dari seribu kali kepalaku terkulai di sana dengan wajah tertutup buku bacaan atau majalah. Kuhempaskan tubuhku di atas kuris itu. Kugoyang-goyangkan perlahan seiring kelebatan ribuan cerita di dalamnya.
Pikiranku menerawang dalam hitungan jam pasir. Namun seketika terhentikan saat mataku tertumbuk pada deretan buku-buku yang tersusun dengan rapi di atas rak-rak terbuka. Seketika, aku melompat. Serasa terhipnotis, langkahku mendekat ke arah rak-rak itu. Jemari tangan kiriku menyentuh buku-buku itu satu persatu. Susunannya tidak banyak berubah, masih seperti sembilan tahun lalu saat terakhir kali aku melihatnya. Buku-buku itu telah menjadi temanku semenjak menginjak bangku kuliah hingga … Ah! Aku menarik jemariku. Kuhela napas berat. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Kepalaku menoleh ke arah rak yang paling kanan.
Aku mencoba menggeser lemari itu. Ops! Berat sekali! Tidak bergerak sedikit pun. Aku mencoba mendorong sekuat tenaga dengan tubuhku. Hup! Berhasil! Lemari pun tergeser selebar dua petak lantai. Tepat seperti yang kuinginkan. Aku duduk di lantai. Aku mengetuk lantai kayu itu. Nah, ini dia! Tak sabar kutekan lantai kayu itu sambil menggesernya ke arah kanan. Lantai kayu pun terbuka. Ada lubang yang cukup untuk menyimpan bekas kaleng bundar kue Monde tempat menyimpan benda berhargaku. Kuulurkan tangan mengambil kaleng itu. Permukaannya tertutupi debu. Kukibas-kibaskan debu itu dengan tangan. Tidak banyak membantu. Akhirnya, aku pun meniup debu-debu itu seakan-akan ingin menerbangkan debu yang selalu melekat dalam jiwaku selama ini.
Kutatap nanar kaleng itu. Aku menarik napas panjang. Kupejamkan mata mengumpulkan keberanian. Lintasan-lintasan bayang-bayang semakin banyak yang singgah di pelupuk mata. Aku tidak tahan dengan serbuan yang mendadak itu. Kubuka saja mataku sambil komat kamit, “Buka? Jangan? Buka? Jangan?” Tanganku gemetar. Tanpa sengaja, kaleng itu terjatuh. PRANG! Tutupnya terbuka …
Aku terkejut. Tanganku meraba-raba isi kaleng itu. Tidak ada!
“Tidak mungkin! Tidak boleh hilang!” Aku panik mencari-cari di sekitar tempat jatuhnya kaleng. Kulihat sela-sela antar mebel di ruangan itu. Tetap tidak kutemukan. Aku hampir menangis!
“Ini yang kamu cari?” Tiba-tiba dari arah pintu mengagetkanku. Suara yang tidak pernah bisa kulupakan. Sontak mataku melihat ke arah kunci yang ada di telapak tangan itu. Aku mendongak untuk menatap wajahnya. Seketika jiwaku tergetar.
***
Cinambo, 8 Maret 2o1O