NELAYAN KECIL DAN BOTOL PESAN AJAIB-(Draft 1) Naskah Buku Cerita Bergambar

NELAYAN KECIL DAN BOTOL PESAN AJAIB-(Draft 1) Naskah Buku Cerita Bergambar

Penulis: Ana P. Dewiyana

1-2

(Ilustrasi: di ujung kiri bawah tampak sebuah botol pesan terapung-apung di lautan. Di ujung kanan atas, perahu sedang berayun-ayun tenang. Tampak seorang Nelayan Kecil (anak kecil laki-laki) sedang bersantai di dalamnya. Dia memancing sambil baca buku)

3-4

(Ilustrasi: Tiba-tiba ombak besar menerjang botol itu hingga terlempar jauh)

5-6

(Ilustrasi: Botol itu terdampar di perahu Nelayan Kecil dan mengenai kakinya)

Pluk!

“Aduh!”

“Waaah, maaf maaf!”

“Hei! Siapa itu?” kata si Nelayan Kecil sambil

matanya mencari-cari kesana kemari.

7-8

“Ini aku. Si botol pesan ajaib.”

“Hah! Botol pesan ajaib? Seajaib apa?”

Uhuk! Uhuk! Botol pesan itu pun terbatuk.

Dari mulutnya keluar cahaya, peta ajaib, dan kompas ajaib.

“Wow hebat!” teriak si Nelayan Kecil takjub menatap peta dan kompas ajaib itu.

9-10

Nelayan Kecil itu melihat ke arah Botol Pesan Ajaib.

Dia terkejut, “Hei, kenapa menangis?”

“Aku ingin pulang. Tempat tinggalku di dasar laut.

Tapi, aku sulit menyelam. Badanku terapung terus.”

“Menyelam?!” seru Nelayan Kecil, “hohoho … tenaaannng, aku bisa membantumu!”

11-12

Wuuussshhh …

Perahu itu berubah menjadi kapal selam.

“Ayooo, Botol Pesan Ajaib. Aku antar kamu pulang.”

Botol Pesan Ajaib pun tersenyum senang.

Uhuk! Uhuk! Dia pun terbatuk lagi.

13-14

(Ilustrasi: Peta ajaib yang bermandikan cahaya terbentang di hadapan mereka. Di peta itu muncul sebuah puri berbentuk botol yang sangat indah dalam bentuk 3D. Botol Pesan Ajaib menunjuk puri berbentuk botol di peta itu. Tampak kompas ajaib bergoyang-goyang.)

“Ini tempat tinggalku.

Ikuti saja gerakan kompas ajaib.

Dia akan menunjukkan arahnya,”

kata Botol Pesan Ajaib.

“Baiklah,” kata Nelayan Kecil itu.

Kapal selam pun meluncur ke dalam laut.

15-16

(Ilustrasi: kapal selam terjebak di antara gerombolan ikan schooling)

Tiba-tiba …

“Aduh! Bagaimana ini?” teriak Nelayan Kecil cemas.

Kapal selam itu tidak bisa maju.

Dia terbawa arus gerakan gerombolan ikan itu.

Tapi …

“Ayo beri jalan buat mereka, Teman-Teman!”

teriak pemimpin ikan-ikan kecil itu tiba-tiba.

17-18

(Ilustrasi: gerombolan ikan schooling membentuk seperti lubang kunci yang di tengah-tengahnya beralaskan karang yang seperti permadani dan ikan-ikan beraneka warna. Kapal selam berada di tengah-tengah.)

“Wow!” seru Nelayan Kecil takjub melihat pemandangan yang terbentang di hadapannya.

Tanpa disadarinya, kapal selam sudah tiba di ujung …

Nelayan Kecil membalikan badannya.

Matanya terbelalak.

19-20

(Ilustrasi: Kapal selam di depan sebuah puri berbentuk botol yang mirip di peta.)

“Akhirnya, kita sampai. Hei, Nelayan Kecil, terima kasih banyak, ya.

Kau sudah mengantarku pulang.”

“Di kapal selam, aku tingalkan hadiah untukmu,”

kata Botol Pesan Ajaib sambil melambaikan tangan.

(ilustrasi: Meluncurlah tabung kaca dari dalam puri berbentuk botol itu dan menempel di dekat jendela kapal selam. Botol Pesan Ajaib pun masuk ke sana.)

21-22

(Ilustrasi: Tanpa disadari Nelayan Kecil, kompas ajaib dan peta ajaib masih ada di dalam kapal selam. Juga banyak sekali buku petualangan yang unik bertumpukan di sana.)

“Nelayan Kecil, kami hadiah untukmu dari Botol Pesan Ajaib,”

kata Kompas Ajaib.

“Botol Pesan Ajaib pernah membaca surat botol pesan,

yang kau hanyutkan di laut tahun lalu.

‘Aku menginginkan peta,

kompas, dan buku-buku petualangan,’ itu kan yang kau tulis dalam surat?”

ujar Peta Ajaib.

Nelayan Kecil terbelalak.

Terbayang surat botol pesan itu.

Dia pun tersenyum senang tiada terkira.

Bandung, 2015

Advertisements

Ujaran Rindu dalam Kisah Peniup Seruling

Kisah Peniup Seruling

Pada permulaan musim gugur, seorang gadis tengah meniup saxophone. Udara dingin dihalaunya dengan nada-nada tak berkesudahan. Tak seorang pun peduli. Dia terus memberikan nuansa pada pepohonan yang menjatuhkan dedaunan.

Sesosok pejalan mendekatinya. Menikmati alunan rasa saxophone itu. Mereka pun saling menyapa dan berbagi sepotong wafel dan coklat.

“Aku rindu ayah-ibuku dan kampung halamanku di Italy,” kata peniup saxophone tiba-tiba. Kerinduan yang sulit menepi bagi gadis itu.

Pikiran si Pejalan pun menerawang, ingatan yang jatuh pada tempat tinggalnya di Bandung. Setelah perjalanannya yang berhari-hari, hampir setiap hari berpindah-pindah negara. Kata rindu terhadap negerinya pun menebar dalam dirinya. Sebaris senyum sendu mengembang.

Seusai perbincangan sejenak itu, pada penghujung waktu, si Peniup Saxophone memberikan hadiah alunan “What a Wonderful World” bagi si Pejalan.

Brussel, Oktober 2014– sepotong moment yang menginspirasi bagi terciptanya buku “Kisah Peniup Seruling” yang akan terbit Juni 2015

Perjalanan Panjang Pangeran Negeri Bunga

Pangeran Negeri Bunga di Bologna Children's Bookfair 2015

Pangeran Negeri Bunga di Bologna Children’s Bookfair 2015

Kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun lalu, naskah Pangeran Negeri Bunga saya tulis, dengan judul Pangeran Bunga. Mula-mula, saya upload di internet dalam bentuk teks yang diterbitkan di sebuah blog. Tidak sedikit para netizen yang meng-copy paste untuk diposting di blog mereka masing-masing, beberapa masih menyertakan link atau nama saya sebagai penulisnya.

Pada 2014, naskah itu bertemu dengan kesempatan yang diberikan oleh Pelangi Mizan khususnya Kang Iwan Yuswandi, Mas Barhen Albar, dan Mbak Sari Meutia, untuk diterbitkan dalam bentuk boardbook. Rasanya senang sekali. Lebih senang lagi, ilustrator buku ini seorang pelukis ternama dan saya sangat suka karya-karyanya, Mariam Sofrina. Dia mengilustrasikan cerita ini berlatar tatar Parahyangan yang sangat indah dan detail, pakaian adat sunda seperti kabaya, ikat, dan pangsi juga lengkap dengan rumah panggung.

Ada sebuah “kebetulan yang sangat memikat pikiran saya :)”. Pada naskah aslinya, saya menuliskan bahwa Pangeran Bunga pergi ke Negeri Langit dan juga pergi ke Negeri Bumi untuk membantu orang-orang yang memerlukan pertolongan. Setelah saya telusuri dari berbagai sumber, rupanya rumah panggung dalam budaya sunda bermakna manusia harus hidup seimbang jangan terlalu melangit dan jangan terlalu membumi, kearifan budaya lokal yang sangat menarik :). Namun, saya baru mengetahui hal tersebut setelah bukunya terbit dan teks tersebut sudah saya edit dan diganti dengan pilihan kata yang lain 😀

Pada 2014 dan 2015, boardbook Pangeran Negeri Bunga pun melakukan perjalanan panjang untuk hadir di Frankfurt Bookfair 2014 dan Bologna Children’s Bookfair 2015. Perjalanan pun belumlah berakhir, masih banyak tempat-tempat yang hendak dikunjungi Pangeran Negeri Bunga… 🙂