Ujaran Rindu dalam Kisah Peniup Seruling

Kisah Peniup Seruling

Pada permulaan musim gugur, seorang gadis tengah meniup saxophone. Udara dingin dihalaunya dengan nada-nada tak berkesudahan. Tak seorang pun peduli. Dia terus memberikan nuansa pada pepohonan yang menjatuhkan dedaunan.

Sesosok pejalan mendekatinya. Menikmati alunan rasa saxophone itu. Mereka pun saling menyapa dan berbagi sepotong wafel dan coklat.

“Aku rindu ayah-ibuku dan kampung halamanku di Italy,” kata peniup saxophone tiba-tiba. Kerinduan yang sulit menepi bagi gadis itu.

Pikiran si Pejalan pun menerawang, ingatan yang jatuh pada tempat tinggalnya di Bandung. Setelah perjalanannya yang berhari-hari, hampir setiap hari berpindah-pindah negara. Kata rindu terhadap negerinya pun menebar dalam dirinya. Sebaris senyum sendu mengembang.

Seusai perbincangan sejenak itu, pada penghujung waktu, si Peniup Saxophone memberikan hadiah alunan “What a Wonderful World” bagi si Pejalan.

Brussel, Oktober 2014– sepotong moment yang menginspirasi bagi terciptanya buku “Kisah Peniup Seruling” yang akan terbit Juni 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s